Piece of Heaven,it is Paradise!
Sometimes,a trip can means so much,the people or things you met during the journey can really affect you emotionally.
Hari kedua,pemandangan pertama di pagi hari saat melihat keluar jendela adalah laut lepas yang berwarna toska dan biru membentang.We definitely love this colour,it's amazing!
Karena hari cerah kami memutuskan untuk jalan-jalan di dalam pulau Maratua dengan sepeda motor milik Pak Jun.Kampung Teluk Harapan berjarak dua kilometer saja dari guesshouse dan merupakan downtown Maratua.
Setelah sarapan,kami berkeliling sejenak dan melihat-lihat dermaga kampung.Aktivitas di kampung ini tak terlalu sibuk dan berjalan lambat,beberapa homestay nampak sepi karena low season.Tak ada yang mencolok dari kehidupan penduduk Teluk Harapan,ada beberapa warung yang menjual kebutuhan sehari-hari,atau warung-warung kecil yang menjual cemilan.
Dari sini kami menuju Bohe Silian,kampung yang mayoritas penduduknya adalah suku Bajau.Letak kampung ini sedikit jauh,saya lupa berapa kilometer untuk menuju kesana.Melalui jalan raya yang sudah diaspal mulus karena satu arah dengan airport Maratua yang baru selesai di bangun tapi masih belum dioperasikan.
Bohe Silian adalah desa tertua yang ada di Maratua,berdiri pada tahun 1912 dengan pemimpin pertama bernama Punggawa Saba.Kampung ini merupakan desa percontohan sebagai desa ekowisata sejak September 2015,di tandai dengan di bukanya Maratua Eco Dive and Lodge sebagai pusat penyelaman milik warga desa.
Ketika baru beberapa meter memasuki ujung jalan desa,penduduk sudah dengan ramah menyapa dan terdengar teriakan anak-anak.
"Halloo....!!Halloo botak!! Hahahaa
Si Akang tertawa-tawa menjawab sapaan mereka,dan dengan PD-nya bilang,pasti dia satu-satunya botak di pulau ini,dan nyatanya sejak datang kemarin,memang tak satupun kami temui laki-laki dengan kepala botak.Ketika kami singgah di salah satu dermaga mereka,anak-anak berlarian menghampirinya dan bertanya macam-macam dengan lucu.
![]() |
| I believe Maratua is piece of heaven |
Nama Bohe Silian sendiri diambil dari bahasa Bajau,Bohe yang berarti air,dan Silian adalah nama orang yang akhirnya bisa menemukan sumber air di Maratua dengan cara menggali sumur.Kampung Bohe Silian ini adalah satu-satunya kampung yang menghadap matahari terbit,dan tidak mempunyai area pantai berpasir.Pemukiman warga yang berbatasan dengan laut berdiri tepat di atas karang-karang dengan menggunakan pondasi dari tiang-tiang kayu yang di tanam di atasnya.Fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan pendidikan dari SD-SMA sudah tersedia disini.
Saya sendiri penasaran dengan asal usul suku Bajau ini yang katanya berasal dari Sulu,Filipina selatan.Secara tradisional,orang-orang bajau tinggal di atas perahu-perahu kecil dan berlayar siang malam mengarungi samudera dengan tujuan menangkap ikan.Karena hidup mereka yang nomaden,mereka di juluki manusia laut atau Gipsi Laut.Di Maratua juga ada suku pendatang lain seperti Bugis,sedikit orang jawa,dan menurut Pak Jun,hanya dua orang dari Lombok,termasuk dia sendiri.
![]() |
| Maratua Dive and Lodge |
![]() |
| Yang paling kecil suka sekali tertawa :D |
Setelah puas berjalan-jalan di perkampungan sampai menemukan jalan buntu,kami kembali ke guesshouse dan sebelumnya mampir ke bandara Maratua dan Maratua Paradise Resort.
![]() |
| Bandara siap di buka bulan juni yang akan datang |
![]() |
| View dari Maratua Paradise Resort |
Kami singgah lagi di Teluk Harapan dan mencari-cari warung makan.Sempat beli kangkung untuk makan malam nanti,seplastik rambutan dan sekilo manga.Harganya lumayan mahal,untuk seikat kangkung akar dihargai lima ribu rupiah,seplastik rambutan dan sekilo mangga masing-masing 35 ribu rupiah.Sebelum pulang si mbak penjualnya menunjukan warung yang tak jauh.Katanya,disini cuma ada tiga warung yang buka-tutup kalau musim sepi turis seperti sekarang ini.Beruntungnya,kami ketemu satu warung buka yang menjual sop ayam.
![]() |
| Sop ayam yang ternyata soto ayam :D |
![]() |
| Siapapun pasti ingin langsung nyebur disini |












Komentar
Posting Komentar