I am Indonesian (Catatan Perjalanan)


  Beberapa hari lalu,pas lagi duduk menunggu pesanan di Costa Coffee,tiba-tiba seorang Ibu menarik kursi di seberang meja saya tanpa basa basi atau permisi,dan meletakkan tasnya begitu saja di situ.Si Ibu yang sedang menggendong bayinya bicara dalam bahasa china yang entah apa artinya,tapi dari gelagatnya sepertinya dia akan menurunkan bayi dari gendongannya.Melihat si Ibu yang kelelahan saya cuma senyam senyum saja pada si bayi yang terus melihat ke saya (minta gendong kali ya?)
Belum habis kaget saya dia menarik lagi kursi di samping saya dan mendudukan bayinya di sana.Sesopan mungkin saya bilang,"Maaf Buk,ada yang duduk disini," dalam bahasa inggris sambil jempol saya menunjuk ke dalam.
Si Ibu menjawab entah apa,tapi mungkin dia pikir saya menyuruhnya duduk di dalam,dari bahasa tubuhnya,saya pikir dia bilang," Nggak papa,disini saja cuma bentar kok," lalu dia membetulkan posisi gendongannya dan menggendong bayinya lagi.Pas banget pesanan saya datang pas pula dia selesai menyandang tasnya,lalu dengan santainya dia pergi dan bilang "Bye bye..." sambil   megangin tangan anaknya biar dadah dadah 🙆😂

I was just laugh,because somehow its funny.Soalnya baru kali ini saya lagi bengong terus di interupsi bayi tak dikenal hahhaaa...
Sekilas mungkin cerita ini biasa saja,but I swear this is not gonna happend while I'm sitting in the coffeeshop in Jakarta.
Orang tidak akan seenaknya masuk ke area yang "bukan" area mereka terus main tarik kursi begitu saja.
Berkali kali saya perhatikan,kata "permisi dan tolong" tidak di gunakan di sini,seolah jika ingin melakukan atau menginginkan sesuatu,ya udah gitu aja,nggak perlu bilang sama orang yang bersangkutan.
Ini juga terjadi di lingkungan kerja yang relatif "high class",saat meminta tolong pada rekan kerja bahkan atasan,kata "please" atau "tolong" seolah kata yang aneh dan tidak terbiasa diucapkan.Di hotel bintang lima sekalipun,sebagian staff yang saya temui saat menunggu lift turun akan cuek cuek saja tanpa "hai,hei,hoi" atau sekedar tersenyum seolah mereka "terlalu" sibuk dengan urusan di kepala mereka sendiri.
Saya sempat merasa "rasis" tapi begitu saya tanya Damian,seorang teman yang berasal dari Hong Kong,hal seperti itu memang umum,walaupun tidak semua staff akan bersikap sama.Dan kalau saya sedang nggak ngomong,mereka akan menyangka saya juga orang lokal,makanya mereka cuek saja.
Berbeda lagi ketika saya ke Watson,walaupun mereka tidak mengerti bahasa saya,mereka tetap helpful dan berusaha membantu mencari barang yang saya butuhkan,atau ketika makan di restoran,pelayannya berusaha menerjemahkan bahasanya melalui handphone,dengan menuliskan bahasa kanji dan menunjukan artinya pada saya.Its fun to have this everytime I ordering food 😄

Bicara soal kesopanan,kita akan bicara soal budaya,yang berarti tidak semua masayarakat yang tinggal di wilayah timur menggunakan budaya ketimuran.Tanpa bermaksud menjelekkan,sebagian besar masyarakat yang saya temui disini bersikap "kasar" dan cuek bebek, karena memang seperti itu latar belakang budaya mereka,yang tentu saja di pengaruhi banyak hal.
Jika masuk toilet umum,suara pintu yang keras terbanting banting adalah biasa,atau sopir taksi yang ngomong sendiri di handphone tanpa peduli penumpangnya,dan tentu saja dengan gaya bicara mereka yang teriak-teriak sekalipun itu hanya pembicaraan biasa saja 😨

Secara pribadi,saya selalu tertarik mempelajari budaya di luar budaya dimana saya di besarkan.Saya senang mengamati bagaimana masing-masing orang bersikap,terutama yang bukan dari satu golongan.Etika dan cara bersosialisasi adalah cerminan budaya dan bagaimana cara mereka di besarkan di lingkungan keluarga saat masih anak-anak.

Trip ke Foshan kali ini memberi saya banyak catatan,bagaimana saya belajar menjadi minoritas dan banyak sabar karena seringnya ketemu orang yang "njengkelin" 😄
Hal-hal ini juga yang memberi saya "pelajaran",semakin banyak bertemu orang,semakin jauh mengunjungi suatu tempat,semakin saya bangga menjadi orang Indonesia dan di besarkan dalam lingkungan yang penuh "anggah ungguh".

Di luar itu,China adalah negara yang masuk dalam list "Must Go",harus dan perlu di kunjungi.Peninggalan sejarah mereka yang luar biasa,tata kota dan surga belanja.Saya suka terheran heran melihat bagaimana mereka menciptakan brand,menduplikat merek-merek Eropa dengan gaya mereka sendiri dengan PD-nya.Originally fake,mungkin itu istilah yang pas.  
Soal kuliner,sayangnya,di Foshan ini cita rasa masakan mereka kurang "tokcer" dari kebanyakan masakan china di lain tempat.Mungkin juga lidah saya yang terbiasa dengan rempah Indonesia,begitu ketemu masakan disini rasanya jadi hambar.Banyak kali saya mencoba seafood,hanya satu atau dua kali saja yang rasanya lumayan 🙊
But so far,saya menikmati saja apapun yang ada di kota ini.Tidak sedikit orang yang mau diajak tersenyum jika ketemu di jalan,walaupun seringnya mereka heran melihat saya yang jalan pelan-pelan sambil celingukan,sementara mereka seperti kejar kejaran (dengan hidup mereka?).
Seorang pemilik toko perhiasan di Lignan Tiandi,berkali-kali nanya," Are you from Indonesia?I thought Philiphino."
"I'm Indonesian."
Lalu katanya,baru kali ini dia ketemu orang Indonesia ngomong inggrisnya "waras".
What the heck?? 😂😂☝

Bunga Kapuk

Salah satu jembatan di Foshan City


Spicy Crey Fish ini satu-satunya masakan pedas yang saya temui 😍


Ada yang mirip menara Eifel disini 😊


Salah satu lorong di Lignan Tiandi, tempat favorite untuk hangout di Foshan

Pas nulis ini saya lagi kangen sama nasi goreng.Di sini semua nasi goreng rasanya entah kemana,dan yang bikin keki adalah porsinya yang bisa dihabiskan satu RT! 😐

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERBAIK HATILAH PADA DIRI SENDIRI

Kesasar di Museum Louvre

MALINDO AIR