Bahasa dan Pertemanan



Pernah nggak punya teman yang kalau ngomong suka ngasal,nggak sopan,atau bahkan terlalu sopan sampai kita risih sendiri?
Saya punya semua-muanya.
Ada yang kalau bicara bahasanya kayak kopi tubruk tanpa disaring,alias pahit dan ngeres.Ada juga yang berusaha terlihat "high'' agar dianggap intelek, (It's tickle me somehow),ada juga yang kebanyakan basa-basi sampai basi beneran atau yang lempeng ngalahin penggaris.
Dengan beberapa teman yang kebetulan satu suku,biasanya saya lebih suka bicara dengan bahasa daerah demi menjaga kelestariannya(halah) atau agar lebih intim dan ringan saja.Saya tidak ber Lu-Gue dengan teman yang tidak tinggal di Jakarta atau memang tak begitu suka bicara dengan dialek Jakarta ini,dan secara pribadi saya bukan pengguna bahasa hedonis.
Sejauh ini,saya mengenal banyak sekali orang dengan karakter dan latar belakang berbeda,dari jenis A sampai Z dan yang paling sering saya perhatikan dari mereka adalah bahasa,gaya bicara,sampai kosakata.Ada yang gaya bicaranya kalem dengan bahasa yang baik,ada yang meledak-ledak dengan kata-katanya yang kasar,ada yang saat bicaranya kaku seolah takut salah dan serba diatur agar terlihat sempurna,ada yang selengekan sekalipun suaminya berpangkat GM,atau nyonya-nyonya yang masih saja "tidak tahu diri" dengan bahasa jongosnya.#DOH
Dari perbedaan karakter dan latar belakang ini,biasanya saya akan berusaha menyesuaikan diri sepanjang itu tidak merepotkan.Semacam saya tidak akan bicara bahasa emak-emak dengan teman yang memang belum emak-emak.Saya tidak akan bicara dengan bahasa yang sama dengan teman yang biasa nongkrong di bar dengan teman yang orang rumahan.
Saya akan bicara seringan mungkin dengan teman jalan atau yang usianya lebih muda dan bicara dengan "pikiran" jika sudah duduk bersama teman-teman kreatif.
But for statement,saya biasanya tidak banyak bicara dengan orang yang bahasanya kasar atau sebaliknya "ketinggian".
Call me sombong,because I am...
"Ketinggian" yang saya maksud adalah orang-orang yang pada saat bicara,karena ingin dianggap terpelajar atau berwibawa mereka memakai bahasa dan kata-kata baku  padahal hanya sekedar ngobrol biasa saja dan bukan dengan partner bisnis.Saya tidak sedang skeptis tapi di perlukan bahasa dan sikap yang luwes dalam pergaulan sehari-hari agar tidak terdengar kaku dan membosankan.
Berbeda lagi dengan seseorang yang memang sudah dari sananya berbahasa halus,sehingga satu waktu dia bicara kasar akan terdengar sangat mengejutkan atau malah menggelikan.
Ada lagi,seorang teman dari antah berantah yang biasanya tiba-tiba nongol setelah lama ngilang.Teman satu ini jarang sekali bicara dengan saya sekalipun posisi kita sedang duduk berhadapan di kafe.Jika mengajak saya nongkrong atau makan,paling dia akan mengirimkan sms singkat seperti "Makan yuk" atau "Ngopi yuk" dan jika sudah ketemu muka paling ngomong sepotong-dua potong,dan kalau sudah ngomong bahasanya juga dingin macam es potong #eh
Dari bermacam-macam jenis teman,favorit saya adalah teman yang pakai "bahasa bathin" alias soulmate.Tanpa banyak bicara,si teman ini sudah ngeh saya mau apa atau sedang kenapa,dan saya pikir hampir semua orang punya teman jenis ini.

Ketika memutuskan berteman atau tidak dengan seseorang,modal saya cuma insting.Jika merasa tidak ada ganjalan (atau perasaan males) maka pertemanan berlanjut.Ada yang bertahun-tahun kenal tapi tak pernah dekat,atau yang baru kenal tapi jadi sangat dekat.
Ada beberapa kali saya bertemu dengan seseorang yang tampaknya "bermasalah" dengan dirinya sendiri,entah karena status sosial atau latar belakang.
Sebut saja Kecubung (Mawar sudah biasa) saya mengenalnya tidak begitu lama sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak dekat karena "krisis" identitasnya,dengan kata lain dia selalu terlihat tidak menjadi diri sendiri dan ingin di akui menjadi seseorang yang lain.Ironisnya,ini adalah sesuatu yang sangat umum ditemui di Jakarta.Walaupun sebenarnya si Kecubung ini bukan pribadi yang tidak baik,tapi saya merasa tidak nyaman setelah beberapa kali mencoba untuk berteman.

Lain halnya dengan beberapa orang teman yang memang terang-terangan saya jauhi karena gaya dan sikapnya yang menyebalkan.Saya percaya setiap orang punya sikap menyebalkan bawaan yang tidak bisa di hindari oleh orang lain (termasuk saya sendiri),hanya saja kadarnya berbeda-beda pada tiap orangnya.Biasanya,yang seperti ini adalah tipe orang yang "bermuka banyak",bahasanya kasar,dan suka sok-sokan (ada banyak jenis sok disini,lain kali saya bahas).
Bahasa adalah mutlak ketika bicara dengan orang lain entah siapapun itu.Kita bisa memilih memakai bahasa yang baik,halus dan luwes atau bahasa yang kaku,kasar,dan sekedarnya.

Saya sendiri mempunyai beberapa teman yang jika bertemu,kita biasa bicara dengan bahasa "Suka-Suka Gue" dengan catatan di larang tersinggung.Tentu saja pertemanan semacam ini adalah jenis TST atau Tau Sama Tau karakter masing-masing.Tapi ada waktunya kita bicara dengan bahasa yang lebih calm ketika membicarakan sesuatu yang serius.
Personally,saya masih terus belajar "bicara"dengan orang-orang terdekat atau yang sudah lama saya kenal.Saya berusaha memperbaiki bahasa saya tanpa perlu terdengar "sok pinter" ketika bicara dengan bahasa yang baik dan benar,termasuk belajar diam ketika memang mengeluarkan suara itu tidak di perlukan.
By the way,I swearing a lot :p


Iseng nulis ini sambil seharian nonto live Kunjungan Raja Salman,saya penasaran Pak Jokowi pakai bahasa apa ya waktu bicara sama Raja Salman?


Photo Petani dan Kerbau itu di Hotel Mercure Bandung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERBAIK HATILAH PADA DIRI SENDIRI

Kesasar di Museum Louvre

MALINDO AIR