Perjalanan Menuju "Scharleylle"



     Tidak ada yang tahu akan terjadinya keajaiban dalam sebuah perjalanan.Entah itu perjalanan hidup,perjalanan karir,perjalanan ke tempat baru,bahkan perjalanan paling sederhana sekalipun,seperti perjalanan rutin ke tempat kerja atau sekedar ke warung sebelah.Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan yang di awali karena sebuah "beban".Dalam waktu sebulan,saya harus menyelesaikan delapan judul cerita pendek yang idenya saja tidak terlintas sedikitpun di kepala,lalu tahu-tahu saya mengikut sertakan diri saya sendiri ke sebuah pembukaan festival menulis se-Indonesia.
Sudah terbayang siapa saja yang akan ada di dalam festival ini-acara yang diselenggarakan Ubud Writers &Readers Festival ini adalah acara bergengsi para penulis tanah air-tapi saya tak pernah peduli.Menang atau kalah tak pernah terlintas di kepala saya,yang penting ikut,titik!
Saya menjadikan ajang ini sebagai shocking theraphy setelah tahun kemarin selama berbulan-bulan otak saya mampet dan draft saya tak ada yang rampung.
"Sinting!" Kata teman saya."Satu judul saja bisa berbulan-bulan selesai."
Yep!Saya saja mengatai diri sendiri "Kurang Waras",jadi kenapa tidak sekalian saja menjadi "Tidak Waras?"
Alih-alih mencari inspirasi,saya mengajak teman saya untuk jalan,tapi tidak ke mall atau ngopi seperti biasanya.Kali ini saya ingin sesuatu yang "Ijo-Ijo" untuk sekedar refreshing sambil ngarep barangkali isi kepala saya menjadi encer.
Pilihan jatuh ke hutan bakau di pinggiran Jakarta timur.
"Hah,kok hutan bakau sih?" Tanya teman saya bingung.Padahal sejam lalu saya baru saja nanya-nanya teman yang lain soal camping di hutan pinus.
Yah...kepikir begitu saja sih,yang penting manusianya lebih sedikit.Paling nggak tidak seekstrim biasanya kalau saya sedang butuh fokus tingkat tinggi,saya cenderung menghindari manusia.Tanpa bermaksud anti sosial sih...

Perjalanan adalah pilihan
Seperti kata bijak,hidup adalah pilihan,dan hidup adalah sebuah perjalanan.Kita bisa memilih kemana kita akan berjalan,bersama siapa,dan lewat mana.Kapan berhenti atau harus jalan terus.
"Scharleylle" adalah proyek hidup dan goal terbesar saya.Berkali-kali saya gagal mewujudkannya,berkali-kali putar arah,berkali-kali ganti partner,berkali-kali ganti mentor,dan berkali-kali ganti jalan cerita.

"Scharleylle" adalah inspirasi saya untuk tetap "menjadi" manusia.Menghabiskan banyak waktu,biaya dan seluruh hidup saya,karena saya tidak hanya ingin menuliskanya sebagai sekedar cerita,tapi memoar.Saya bersedia kehilangan banyak hal,saya bersedia berada pada "zero level" dimana tak pernah tertulis dalam garis keturunan keluarga saya demi sebuah persepsi.
Almarhum Ibu saya,seorang wanita jawa asli yang memegang adat,seorang feminis yang semasa hidupnya tak pernah sekalipun mengenakan celana panjang,apalagi celana pendek.Jika Ibu saya masih hidup,saya yakin beliau tak akan pernah setuju dengan "cara" hidup saya yang jauh dari kata "normal' menurut persepsinya.

Kembali ke "perjalanan" saya ke hutan bakau,teman saya menyarankan naik mobil saja,berhubung saya kurang tidur,hari menjelang siang dan cuaca panas.Tapi saya memilih naik angkutan umum saja.
Alasan saya supaya lebih berasa adventour-nya(padahal mah biar ngirit hihihi...)
Kami naik busway sampai Monas lalu nyambung pakai BKTB,turun di depan yayasan Budha Tzu Chi,Pondok Indah Kapuk dan jalan kaki sekitar 1 km.Sepanjang jalan saya mengamati orang-orang,lebih tepatnya nguping.Dari Ibu-Ibu yang membahas tentang suaminya,sampai segerombolan ABG alay yang entah sedang cerita apa karena ngalor ngidul nggak jelas.


Berjalan diantara pohon-pohon bakau adalah hal baru buat saya,karena setiap kali saya harus menunduk untuk menghindari paku-paku yang mencuat dari kayu-kayu atau bambu penutup jalan.Teman saya tidak mau di ajak naik kano karena tidak bisa mendayung dan takut kanonya terbalik sementara dia tak bisa berenang.Saya sempat meledeknya dengan candaan "sadis" saya.
"Tidak bisa mendayung,tidak bisa berenang,tidak mau belajar pula,mau jadi apa hidupmu?!"

     Satu kali kami memilih jalan yang kelihatannya tidak dirawat dan tidak di lewati orang,sebagian jalan setapaknya tak ditutup kayu,lalu berakhir ke sebuah jembatan yang ujungnya rimbun dan sepertinya tidak meyakinkan akan ada jalan tembus.Kami memilih berbalik,dengan alasan "ngasal",takut ada anaconda hahhaa...
Taman wisata mangrove ini memang tak terawat maksimal,terlebih perkemahan yang kelihatannya sudah lama tak ada orang yang menginap.Beberapa pondok terlihat rapuh,kotor dan tak terurus.Niat saya yang semula ingin menginap sekejab batal dengan alasan keamanan.Tapi tak apalah,berjalan diantara pohon-pohon bakau saja sudah cukup mendinginkan isi kepala saya.

     Setelah mengambil jalan yang ramai kami menemukan pantai,yang tidak menghadap lautan lepas,melainkan pemandangan kota Jakarta dengan konstruksi di mana mana.Wuih...tak seperti harapan saya.Lalu setelah duduk sebentar kami berjalan lagi dan naik ke menara yang biasanya di gunakan untuk mengamati burung.Lucunya,kami tidak melihat burung satupun tapi malah melihat banyak ikan-ikan di bawah sana :D
Sebelum matahari tenggelam,kami memutuskan pulang.


Jalan-jalan kali ini,entah mengapa membuat hati saya lebih riang,dan "beban" yang saya bawa saat berangkat tadi jatuh entah dimana.Simpul ruwet dalam otak saya perlahan-lahan mulai mengendur,dan mendadak saya punya banyak ide untuk judul-judul cerita pendek saya.Hoyaaa!!

"Kadang kita hanya butuh perjalanan yang sederhana untuk menuntaskan sebuah tujuan besar."

Perjalanan menuju "Scharleylle" saya mulai lagi dengan manuver yang lebih bersahaja.Tak harus lagi bayar mahal mentor atau kelas menulis dengan tugas bejibun.Saya rasa,saya hanya perlu jalan-jalan saja :)



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERBAIK HATILAH PADA DIRI SENDIRI

Kesasar di Museum Louvre

MALINDO AIR