Living in Hongkong (Discovery Bay)
Awalnya rencana ini hanya basa-basi,angan-angan,andai-andai atau percakapan tak penting setelah empat gelas wine.
But as people say," Be careful with your wishes for they might come true".
Personally,I considering myself as "nomads", as my wish when I was kid,dan Jakarta akan selalu menjadi tempat pulang for some reasons.
Hongkong adalah salah satu kota termahal di dunia untuk berdomisili,tapi tidak mengurangi ketertarikan banyak orang untuk tinggal di dalamnya.
I do love walking in Hongkong streets,markets and their old buildings since British colony is really amusing.I'm literally learning their history as I learning China history which is remarkable.
Back to my point,living in Hongkong is very easy,practical in same way also tricky.
Saya masih sering belibet jika di MTR station,kesasar di jalan,salah masuk gedung jika cari restauran bahkan setelah berkali-kali datang ke Hongkong.
Bulan april lalu,saya menyewa flat di Discovery Bay,Lantau island selama satu bulan untuk masa percobaan,sambil mencari-cari lokasi untuk tinggal di Hongkong island,tetapi tidak di pusat kota yang harga sewanya sangat mahal tapi ukuran flatnya kecil dan sempit.
Lokasi flat berada di atas bukit,dan menghadap ke laut Hongkong.Jika cuaca cerah,kelap kelip lampu-lampu dari Hongkong terlihat jelas.Flat yang saya booking dari Airbnb ini berukuran sekitar 45 meter persegi dengan satu kamar tidur,satu kamar mandi,satu ruang keluarga dan dapur dengan perlengkapan yang lumayan lengkap,termasuk filter air,jadi tak perlu beli ke supermarket dan nyampah botol plastik.Sofa bed di depan tivi (tanpa Netflix) dan wifi lumayan kencang.
Gedung flat tipically Hongkong style,imut-imut manis (baca: minimalis) tapi harga sewa
amit-amit mahalnya.Untuk ukuran flat ini sekitar 60 jutaan sebulan(Walaupun kantor Bapake yang bayarin tetap aja ngelus kepalanya yang botak)😆
Lokasi flat berada di atas bukit,dan menghadap ke laut Hongkong.Jika cuaca cerah,kelap kelip lampu-lampu dari Hongkong terlihat jelas.Flat yang saya booking dari Airbnb ini berukuran sekitar 45 meter persegi dengan satu kamar tidur,satu kamar mandi,satu ruang keluarga dan dapur dengan perlengkapan yang lumayan lengkap,termasuk filter air,jadi tak perlu beli ke supermarket dan nyampah botol plastik.Sofa bed di depan tivi (tanpa Netflix) dan wifi lumayan kencang.
Gedung flat tipically Hongkong style,imut-imut manis (baca: minimalis) tapi harga sewa
amit-amit mahalnya.Untuk ukuran flat ini sekitar 60 jutaan sebulan(Walaupun kantor Bapake yang bayarin tetap aja ngelus kepalanya yang botak)😆
Sekilas,DB sangat menarik untuk tempat tinggal,berada di Lantau island yang mana dekat ke airport,jauh dari berisik,tanpa ada mobil dan kemana-mana disediakan suttle bus.
But then,setelah dua hari saya langsung merasa bosan karena segala sesuatu yang serba praktis,mudah,dan on time,tak ada tantangan untuk "kesasar dan ngaret" sama sekali.Maybe because I used to it in Jakarta 😂😂😂
Dari segi entertainment,hanya ada dua plaza untuk di kunjungi,dua supermarket,tanpa ada freshmarket (which is lethal for me),beberapa restaurant dan bar,kemudian harus naik boat untuk ke pusat Hongkong sekitar setengah jam,jadilah saya lebih sering nongkrong di pulau lain seperti Pengchau atau Lamma untuk sekedar ngopi atau makan siang.
Basically,DB lebih cocok untuk mereka yang berkeluarga,punya anak dan menginginkan lingkungan kondusif dan nyaman.Sementara saya makhluk nocturnal yang menjelang subuh baru bisa tidur.Kata seorang kawan,Lamma island yang notabene hippie island lebih cocok untuk saya,but then,I'm not hipster.
Saya hanya mudah bosan dengan keteraturan.
Transportasi menuju DB dari Hongkong sangat mudah,boat dari Central pier berangkat setiap 20 menit atau sebaliknya kecuali setelah jam 8 malam menjadi per-30 menit,dan 1 jam 30 menit setelah jam 3.30 pagi,atau tepatnya boat akan berangkat jam 5 pagi.
DB pier berada di depan South Plaza,dan beberapa meter terdapat shuttle bus dengan nomor tertentu ke tiap komplek residen.
Over all,setelah sebulan "menginap" di Discovery Bay membulatkan keputusan untuk tidak tinggal di sana because it's boring for me.Maybe not for some others,depends on.
Sambil menulis ini saya makin merasa kangen Jakarta,dengan segala acak-adulnya.Damn.
Sambil menulis ini saya makin merasa kangen Jakarta,dengan segala acak-adulnya.Damn.










Komentar
Posting Komentar