Kembali Ke Papandayan
Lima belas tahun lalu,terakhir saya menjejakkan kaki ke Gunung Papandayan.Saat itu semua masih sangat sederhana,belum ada villa,menara pandang dan trek mendaki belum serapi sekarang ini.
Mendaki Papandayan mengingatkan saya pada masa-masa "badung" saya karena hampir lebih sering keluyuran daripada masuk kuliah.Bahasa kerennya,"Pencarian Jati Diri," yang Alhamdulillah sampai sekarang belum ketemu-ketemu juga 😂😂
Berangkat jam 3 pagi dari Jakarta,macet-macetan di tol Cikarang,saya dan 3 orang kawan,sampai di Papandayan sekitar jam 9.Setelah mampir sarapan,parkir mobil dan duduk-duduk di warung kami mulai bersiap trekking.
Tiket masuk adalah 30 ribu/orang dan 35 ribu untuk kendaraan roda empat,plus biaya parkir yang terpisah sebesar 10 ribu.Info lengkap bisa cuss langsung di web TWA Papandayan.👌
![]() |
| Lapang parkir luas |
Asudahlah...toh view Papandayan sangat emejing.Jadilah saya ketularan mereka.
Sejak di kelola pihak swasta,Papandayan berganti rupa,starting point diaspal mulus,jalur trekking di persingkat,dan toilet yang tersedia di tiap pos istirahat.Selain cottage dan kolam rendam yang langsung di aliri air panas dari kawah Papandayan,juga di bangun taman seluas 5 hektar dan fasilitas masjid.
Menuju hutan mati,jalan setapak yang dulu terjalnya setengah mati sekarang sudah sangat nyaman,dan tiap pos ada petugas keamanan.Tak perlu banyak persiapan untuk sampai ke atas gunung,kami hanya membawa masing-masing sebotol air mineral,pakaian dan alas kaki nyaman.
Sepuluh menit gundulmu!Batin saya.Kami butuh paling tidak setengah jam untuk sampai ke area ini.
Hutan mati Papandayan terbentuk setelah erupsi pada tahun 2002,menyisakan pohon-pohon kering dan batang-batangnya yang menghitam.Jangan ditanya,saya langsung merinding,berasa di antah barantah,mistis,dan kebetulan,cuma ada kami berempat saja.
Setelah melepas lelah dan jepret sana-sini,kami kembali turun.Kali ini kami tidak mendaki sampai Tegal Alun atau puncak Papandayan karena tidak berniat untuk berkemah.Padang Edelweis pun kami skip mengingat waktu tempuhnya dan jam sudah menunjuk pukul 2 siang.
Setelah berendam sejenak di kolam air panas di area cottage,kami meluncur ke Garut kota untuk urusan perut.
Anyway,trekking kali ini yang dadakan lumayan sukses bikin PD lagi buat naik gunung.Sekedar cerita,tiga belas tahun lalu,saya berhenti panjat-panjatan karena kecelakaan di Gunung Raung,alhasil harus istirahat selama delapan bulan,yang akhirnya bablas sampai bertahun-tahun.Yah,mungkin itu sebabnya proses "Pencarian Jati Diri" itu nggak ketemu-ketemu,karena saya kelamaan istirahatnya hehee...
"Bukanlah gunung yang kita taklukkan,tapi diri kita sendiri." Edmund Hillary












Komentar
Posting Komentar