How the Pandemic Affected Your Life?
Central,Hongkong 2121
Hujan di luar belum berhenti dari siang tadi,dan jalanan macet luar biasa dari hari-hari sebelumnya.Jam menunjuk setengah tujuh malam,waktu seharusnya aku bertemu kawan di sebuah bar Belgia di area Soho.Ya sudahlah,toh kawanku itupun sedang kena macet.Dari kantornya di Admiralty ke area central sebenarnya tak begitu jauh,tapi hujan hari ini seperti di tumpahkan begitu saja dari langit.Om Mikail,si pengawal hujan,rupanya sedang tidak mood untuk menghentikannya barang sejenak.Atau barangkali saja dia sedang mager,menikmati sebatang cigar di bar ini,seperti aku,kami dan orang-orang di bar ini.
Aku memandang sekeliling.Di sudut ruangan,tiga orang laki-laki sedang mengobrol,lelaki di sebelah kiri wajahnya tertutup asap cerutu yang mengepul-ngepul,tapi yang paling menarik adalah tampilannya.Dia mengenakan setelan jas lengkap dengan rambut kaku di sisir ke belakang,sepintas akan mengingatkanmu pada Al Pacino muda dalam film The Godfather.Di sebelahnya,seorang lelaki berusia lebih tua,hanya mengenakan kaos polo dan celana chino.Caranya menikmati gulungan cerutu lebih santai dan senior,tidak seperti pemuda di sebelahnya yang amatiran tapi sok keren.Di seberang mereka duduk seorang lelaki berwajah oriental,entah Chinese atau Hongkongese (kebanyakan hongki tak sudi kalau mereka di bilang cainis),tangannya memegang lihai cerutunya,tapi terkesan sekedar untuk kepentingan bisnis saja,bukan kegemaran yang dia lakukan sehari-hari.Mustahil satu dari mereka adalah jelmaan Om Mikail.
Di sebelah kananku,dua orang pemuda duduk berhadapan dengan-entah apa yang ada di gelas mereka-menikmati cigar hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaus,dua-duanya.Sedikit annoying memang jika mengingat beberapa orang yang merasa berduit tapi tak mengindahkan budaya,dalam hal ini seni berpakaian yang pantas untuk mendatangi tempat atau acara tertentu.Aku menebak,dua orang ini mungkin startup founder yang sedang naik daun,atau karyawan perusahaan bonafide yang sedang belajar gaya-gayaan biar dianggap hypebeast.
Lalu dihadapanku,duduk seorang lelaki berkepala plontos dengan setelan smart casual,di antara jari tangan kirinya terselip sebatang cigar Honduras dan ditangan kanannya memegang segelas rum Diplomatico.Dari sekian orang di ruangan ini,rupanya hanya dia yang tahu bagaimana menikmati cigar dengan cara yang classy dan appropriate.Tapi aku tidak tertarik membayangkan kalau dialah jelmaan Mikail.
Aku menatap keluar lagi,hujan kian mengguyur sederas-derasnya.
Bing!
Handphoneku berdenting.
"B****y f****n traffic! I won`t make it on time."
Itu isi watsap kawanku.Ya sudahlah...
Jika biasanya aku bakal mangkel sendiri ketika rencana dari jauh-jauh hari mendadak tidak sesuai karena alasan apapun,rasanya kali ini aku merasa biasa -biasa saja.Sebabnya kenapa?Jelas karena pandemi.Yes,pandemic!
Dua tahun ini aku terlatih untuk kebal terhadap rencana-rencana yang tak sesuai jadwal,acara yang di cancel mendadak atau tak bisa bertemu keluarga secara langsung hampir dua tahun,dan list panjang lainnya yang butuh kesabaran extra sejak awal pandemi hingga hari ini.Termasuk,super sabar masih harus pakai masker kemana mana padahal sudah dua kali vaksin.Tak ketinggalan,aku sudah pernah ngerasain karantina dua minggu di rumah gara-gara telat sehari balik ke Hongkong dengan segala macam rumitnya prosedur kesehatan sebelum akhirnya lebih longgar seperti saat ini.
Anyway,Hongkong it`s not my favorite place to live.Kenapa?Mahal gilak!
Hongkong masih tercatat sebagai kota termahal ketiga setelah Shanghai dan Tokyo,semua harga barang atau servis jika di hitung dalam rupiah bisa jadi dua atau tiga kali lipatnya.Plus stereotype jika kamu tidak berkulit kuning dan bermata sipit,maka kamu adalah pekerja migran.Personally,aku tidak masalah dengan anggapan rata-rata itu dan salut pada mbak-mbak pekerja keras dan super berani ninggalin kampung halaman dan keluarga demi hidup yang lebih baik,yang di negara sendiri pemerintahnya nggak jamin apa apa,malah terkesan seneng-seneng aja kalau banyak Mbak yang dikirim ke luar negeri karena devisa yang masuk ke kas negara bakal makin tinggi.
Tapi ya gitu deh,butuh proses untuk berinteraksi dengan hal-hal baru yang kadang-kadang nyebelin.
Hidup di perantauan sungguh perlu berlapis lapis perisai plus banyak melatih mental kita untuk menghadapi culture shock dan homesick.Setelah tiga tahun,aku masih belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan,bahasa sampai yang remeh temeh seperti menghitung koin dolar (aku masih sering bingung).Satu hal yang bisa di terima selama tinggal di Hongkong adalah mudah mencari makanan rasa Indonesia,sekalipun tak otentik tapi lumayan mengobati rasa kangen masakan rumah.Eh...sepiring nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya seharga HK$75 loh...atau sekitar 135 ribu rupiah,mantep kali kan?! π
Ngomong-ngomong,ini adalah tulisan pertamaku lagi sejak November 2019.Sengaja ber aku-kamu karena ingin sekedar bercerita saja.Rasanya gagu setelah setahun lebih tanpa ngeblog ataupun posting storytelling.Jika dipikir-pikir dua tahun terakhir selama pandemi adalah waktu yang tepat untuk banyak nulis atau apapun itu,tapi nyatanya aku malah lebih sibuk mencari tahu bagaimana caranya bertanam di pot dan mereka tidak mati setelah dua minggu.Alhasil,tiga batang anggrek bulanku berbunga untuk kedua kalinya,dan tanaman rimpang-rimpanganku mulai tumbuh daun.Dua minggu lalu,untuk pertama kalinya aku bisa masak rendang dengan daun kunyit,bikin nasi goreng kencur plus punya tanaman pandan,seledri,mint,kemangi dan lidah buaya sendiri.Setengah dari tanaman yang kubeli tahun lalu rata-rata selamat,dan sisanya sekarat.π♀️
I was born with deadly thumb!
Sebenarnya sih memalukan,mengingat Bapakku adalah seorang petani yang kalau menanam apapun bakal tumbuh subur.Mungkin aku menuruni bawaan ibuku yang paling bisa menumbuhkan rumput teki disamping rumah.π
Kilas balik dua tahun ini,setidaknya aku bisa berbangga hati dengan pencapaian-pencapaian kecil tapi luar biasa aku syukuri karena dimasa kristis ini membuatku lebih banyak waktu untuk diri sendiri.Terutama memahami keinginan-keinginan di masa mendatang.Tujuh tahun lalu,aku selalu ingin punya travel agen sendiri yang ternyata begitu pandemi menyerang,bisnis ini termasuk yang paling kolaps.Sekalipun jauh di bawah survive,aku masih beruntung di banding kawan-kawan lain yang habis-habisan untuk sekedar bertahan hidup.Dari sekian banyak peristiwa selama pandemi ini,naik turun atau jatuh bangunnya,satu pertanyan yang selalu aku tanyakan pada diri sendiri adalah,apakah aku sudah menjadi manusia yang lebih baik sekarang?
I dont know.
Setidaknya,aku belajar tentang batasan-batasan yang aku berikan pada diri sendiri,pada orang lain,dan yang pasti aku lebih punya banyak cara untuk mencintai diri sendiri dari waktu-waktu sebelumnya.
Di tulisan selanjutnya,let`s talk about Self Love π
Bersambung...


keren,, !!
BalasHapusMakasih loh udah mampir π
Hapus