Travel Journal : Abu Dhabi



"Sebuah perjalanan  akan merubah jiwa seseorang,sikap dan cara pandang.Setiap perjalanan akan memberikan makna yang berbeda kepada masing-masing pejalan,dan si pejalan berhak memaknai tiap perjalanan dengan sudut pandangnya sendiri."

I'm becoming more religious when I travel.
Agak berlebihan?Mungkin.Tapi saya yakin setiap orang pernah mengalami rasa kuatir atau takut ketika dia berada dalam satu perjalanan ke tempat asing,lalu diam-diam berdoa supaya selamat.
Belakangan,saya jadi lebih banyak "baca-baca" ketika traveling.Bisa jadi karena faktor U,terlalu banyak yang berseliweran di kepala,banyak khawatir dan kelupaan.Seingat saya,dulu jika kelayapan kemana mana suka masa bodoh,nyasar biarin,nggak bisa pulang ya sukurin 😆😆
Alhasil,satu langkah keluar rumah doa pertama yang saya baca adalah Laa haula walla quwwata....dst di sambung doa doa lainnya.Paur,kalau kata orang Sunda.
Tapi memang seperti itulah,semakin sering saya "jalan keluar" semakin saya merasa tidak tahu apa-apa dan bukan siapa-siapa.Semakin banyak saya berada di jalan,semakin saya merasa perlu selamat agar bisa pulang.

Awal tahun ini saya mengunjungi Abu Dabhi untuk merayakan tahun baru.Secara pribadi,ini adalah momen spiritual untuk saya,terlepas dari Abu Dabhi yang berada di tanah arab dan sebagainya.
Saya tidak pernah berpikir untuk mengunjungi negeri ini sebelumnya karena satu dan banyak pertimbangan.Dari jarak tempuh sampai biaya tentu saja.
Tapi rupanya,ini yang di namakan rejeki anak soleh.😍

Lama perjalanan delapan jam setengah lumayan tak terasa karena flight lewat tengah malam (jam 12.40),jadi begitu nemu kursi,saya langsung ketiduran,dan bangun-bangun sudah sampai di AD International airport (jam 6.05).Masih pagi,nyaris tak ada antrian di imigrasi,dan matahari baru saja muncul di langit timur.
Kesan pertama, bingung campur merinding.
"Bingung kenapa saya ada disini dan merinding karena saya ada disini."
Sepanjang perjalan menuju hotel,saya cuma bisa bengong dan melongo,perasaan campur aduk.Entah apa namanya,yang ada cuma bisa mengucap Masya Allah terus menerus.Seingat saya,itu adalah frasa terbanyak yang pernah saya ucapkan.
Berada di negeri asing yang bahasa dan kulturnya berbeda seringkali bikin saya minder sendiri.Sebagai traveler amatiran perasaan ketar ketir selalu ada,kagok sampai tidak percaya diri.Tapi di sisi lain,setiap perjalanan selalu saya maknai dengan hati,karena setiap langkah menjadi bagian dari proses pertumbuhan diri.

Pagi di Abu Dabhi airport

I'm grateful that my traveling to Abu Dhabi is the most fancy trip I ever had.Bussiness class seat in the plane,stay at the luxury hotel,expensive stuff and food.But,that's not the main point.Mengunjungi tempat baru bagi saya adalah membuka mata dan pikiran,menyiapkan hati untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda,memahami budaya,menyelami sejarah dan manusianya.

Abu Dabhi adalah kota istimewa dengan segala keteraturan.Memegang lebih dari delapan puluh persen wilayah UAE (67.340 km²) dengan penduduk kurang dari dua juta orang.Di banding Dubai yang flashy,Abu Dabhi lebih konservatif dan tradisional.
Kota Al Ain,wilayah  bagian timur Abu Dhabi yang berbatasan dengan Oman di kenal dengan sebutan "The Garden City of The Gulf" merupakan situs warisan dunia UNESCO.Di banding kota-kota  lainnya di emirat,Al Ain terlihat lebih hijau dengan pertanian dan peternakan yang lebih maju.Selain Sheikh Zayed Al Nahyan,sang Founding Father of UAE adalah sosok yang peduli dengan penghijauan,Al Ain terkenal dengan falaj-nya (sistem irigasi gurun) yang berusia ribuan tahun dan beberapa diantaranya masih di gunakan hingga saat ini.

Above the cloud

The Palm

Gate of Emitas Palace

Room's view

Presidential Palace 

Potret Sheikh Zayed Al Nahyan

Next,mengunjungi Abu Dhabi "wajib" hukumnya mengunjungi Grand Sheikh Zayed Mosque,masjid terbesar di Abu Dhabi dan salah satu masjid termegah dan terbesar ke tiga di dunia.Masjid agung ini di bangun sebagai monumen untuk mengkonsolidasikan budaya Islam dan pusat terkemuka untuk kajian ilmu Islam.Berdiri di jantung kota Abu Dhabi,antara jembatan Al Musaffah dan jembatan Maqta,dengan ketinggian 11 meter diatas permukaan laut dan 9,5 meter diatas permukaan tanah,sehingga bangunan masjid ini terlihat jelas dari semua arah.Pembangunan masjid agung ini menghabiskan dana sekitar AED 2,5 milyar,dengan cakupan area 22,421 m²,38 perusahaan kontraktor dan kurang lebih 3.500 pekerja selama hampir 12 tahun.













Masjid agung ini memiliki 4 menara setinggi 107 meter di tiap penjuru,82 kubah bergaya khas Ottoman,dengan kubah utama setinggi 85 meter dan berdiameter 32,8 meter yang merupakan kubah masjid terbesar di dunia dalam jenis yang sama.
Memiliki lebih dari seribu pilar yang di lapisi 20 ribu marmer di poles dengan batu alam seperti  lapis lazuli,agate merah,amethys,abalone shell dan mother of pearl.
Aula utamanya bisa menampung 7.126 jamaah,sementara keseluruhan masjid bisa menampung 41 ribu jamaah.
Karpet yang menghampar di aula utama adalah karpet terbesar di dunia (the Guinness Book of World Records) dengan lebar 5.625 m²,di kerjakan oleh 1.300 orang pengrajin asal Iran yang menggunakan 35 ton benang wool (termasuk dari Selandia Baru) dan 12 ton kapas,25 warna alami dengan warna hijau yang mendominasi permukaan karpet.


96 pilar di aula utama berlapis Mother of Pearl

Masjid ini di terangi 7 lampu kristal swarovski berlapis emas,dan yang terbesar berada di aula utama.Chandelier ini di impor dari Jerman dengan diameter 10 meter,tinggi 15 meter dan berat 9,5 ton dengan hiasan kristal swarovski dari Austria.
Desain arsitektur bergaya artistik Islam modern dan klasik ini  pada eksteriornya di finishing  dengan marmer putih yang di datangkan dari Yunani dan Italia,jenis marmer yang dianggap paling murni di dunia.
Desain kaligrafi interiornya diadaptasi dari  karya seniman-seniman global,di tulis dalam tiga jenis kaligrafi arab oleh kaligrafer asal UAE,Yordania dan Suriah.


Dengan segala kemegahannya,berada di tengah masjid ini membuat saya merasa kecil dan malu hati.Mengingat ibadah yang bolong-bolong dan ala kadarnya.Antrian yang panjang saat masuk dan keluar area masjid,antri untuk berfoto di sudut-sudut tertentu dan mengenakan gamis pinjaman yang kebesaran adalah pengalaman tak terlupakan,worthed,dan luar biasa.

Sepulang dari Grand Sheikh Zayed Mosque,sepanjang perjalanan kembali ke hotel saya masih terus melihat-lihat foto-foto di ponsel,berdecak kagum sendiri.Ada rasa haru dan bangga menyelip sekaligus terinspirasi.Bahwa traveling bukan hanya tentang jalan-jalan atau sekedar bersenang-senang,tapi lebih mengajari kita sebuah hal atau sisi kehidupan yang berbeda dari dekat.

"One's destination is never a place,but new way of seeing thing." Henry Miller


Bersambung : Evening Desert Safari





Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERBAIK HATILAH PADA DIRI SENDIRI

Kesasar di Museum Louvre

MALINDO AIR