Living in Hong Kong (Wan Chai)

Facing new path sometimes is scary,or for me,I think alot about something migh getting worse.But what's life if we don't take the challenge?

Jadi,bulan lalu satu kali lagi masa percobaan untuk tinggal di Hong Kong saya lalui.Setelah percobaan pertama yang sukses bikin saya bosan karena lingkungannya yang terlalu "anteng".Lalu percobaan kedua ini kami pilih area ramai di tengah kota,It's Wan Chai!
Yaaayyyy!! πŸ‘πŸ‘

Wan Chai adalah salah satu distrik tersibuk di Hong Kong.Dari kedai makanan,elektronik sampai barang antik.Tinggal di Wan Chai sangat berbanding terbalik dengan tinggal di area DB.Flat yang kami sewa tepat menghadap perempatan jalan,jalur penyeberangan dan kiri kanan penuh restoran.Sampai jam tiga pagi,saya masih mendengar orang yang berlalu lalang pulang kerja,lalu sejam kemudian kota mulai bangun dan memulai aktivitasnya lagi.

Selama tinggal di Wan Chai,insomnia saya menjadi akut dalam waktu seminggu,dan saya baru bisa tidur menjelang jam lima pagi lalu terbangun lagi sekitar jam 8 karena suara klakson nyaring,bis dan mobil yang lalu lalang atau tetangga sebelah yang menutup pintu flatnya macam orang kesurupan.#Doh 🀦‍♀️🀦‍♀️🀦‍♀️
Tapi mau bagaimana lagi?Flat sudah di bayar full.😣

Di luar urusan tidur yang terganggu,saya lebih menyukai Wan Chai di banding DB.Tentu saja karena semua serba tersedia dan praktis.Dekat dengan stasiun MTR,trem,supermarket,fresh market dan kedai makanan,dari yang biasa saja sampai yang tak wajar.
Call me urban person because I am,saya lebih memilih tinggal di lokasi yang semuanya serba ringkas,cepat dan mudah di akses.Yah,walaupun konsekuensinya biaya hidup memang lebih tinggi.
Tapi tergantung bagaimana diri kita sendiri untuk mengaturnya.
Sekalipun toko-toko fashion berjajar kali ini saya tak begitu tertarik untuk belanja-belanja macam ketika saya di Guangzhou.
Mungkin karena saya mulai mengerti bagaimana siklus barang-barang yang ada di pasaran HK ini,yang kebanyakan di produksi di China.Termasuk barang-barang branded.FYI,brand sebesar
Prada (and some other big brands,and I don't talk about fake stuff) manufacture mereka berada di Dongguan,China,sebelum di kirim ke Italy untuk finishing dan di distribusikan.
Pengalaman di China ini yang membuat saya banyak berpikir ulang tentang belanja-belanja.Saya sudah cukup senang beli baju di FO jika memang perlu,selebihnya saya masih belajar mengendalikan diri dan mengelola uang agar tak keblinger karena seringnya kalap melihat barang-barang yang di pajang di etalase.
Hong Kong is about shopping,shopping and shopping.Dan ini adalah tantangan buat saya pribadi yang suka tanpa sadar membeli sesuatu sampai akhirnya kamar penuh barang yang tak saya butuhkan.

Flat yang kami tempati berada di lantai 4 di sebuah bangunan nyempil di antara bangunan-bangunan lain dengan style khas bangunan Hongkong lama (booking lewat Airbnb) dengan harga sekitar 94 juta untuk 5 minggu.😭😭😭
Rata-rata flat di Hong Kong memang imut-imut tapi mahalnya amit-amit.Tapi daripada tinggal di hotel,kami lebih memilih flat dengan pertimbangan ada dapur dan ruang tamu.



Kali ini kami mendapat flat yang lumayan lebih besar,sekitar 70m persegi dengan 3 kamar tidur yang imut-imut juga.Dua kamar dengan single bed di lengkapi lemari pakaian,dan satu set meja kursi,sementara kamar satu lagi dengan ranjang tingkat tanpa lemari.Berhubung flat ini biasa di sewakan untuk short term jadi fasilitasnya pun serba basic,tapi wifi super kencang dengan Netflix yang bikin ketagihan.
Karena cuaca Hong Kong yang sedang acak-adul,sehari panas banget dan besoknya hujan seharian tak berhenti,jadilah saya lebih memilih tinggal dan menonton tivi setelah pekerjaan yang lain kelar.
Acara rutin tiap sabtu bertemu agen untuk melihat-lihat rumah yang di sewakan.Dari sekian banyak rumah dan apartemen,akhirnya kami sepakat untuk pindah ke Saikung,dan menyewa rumah duplex dengan rooftop.
Saikung adalah area yang kami pilih sejak awal,karena letaknya di pinggir pantai dan di kelilingi bukit.Harga properti lebih murah,lebih hijau dan tak sesibuk atau seberisik Hong Kong kota.

Back to Wan Chai...
Hal yang paling saya senangi tinggal di Wan Chai adalah jalan-jalan menyusuri satu blok ke blok lainnya.Street market,restoran dan bangunan-bangunan tua yang meninggalkan banyak sejarah.Salah satunya adalah The Blue House.


Bangunan yang dulunya adalah Wah To Hospital ini berusia lebih dari 80 tahun dan dibangun sebelum masa perang,atau sekitar tahun 1870.Pada tahun 1880 saat rumah sakit di tutup,bangunan dua lantai ini di ubah menjadi tempat ibadah yang di dedikasikan untuk dokter Wah To.
Pada tahun 1924 bangunan ini kembali di bangun menjadi empat lantai dengan style arsitektur China.
Gedung ini kemudian di gunakan untuk sekolah bela diri atau Martial art oleh Lam Cho,sepupu Lam Sai Wing yang merupakan murid Wong Fei Hung (tokoh martial art paling berpengaruh di China) pada tahun 1950-an,dan klinik osteopathy pada tahun 1960.
Bangunan ini kemudian di ambil alih oleh pemerintah Hong Kong pada tahun 1970-an,di namai The Blue House karena di cat warna biru dan saat ini di gunakan sebagai museum atau Hong Kong House of Stories.

Setelah The Blue House,bangunan tua favorit saya adalah The Pawn.Bangunan ikonik colonial ini pas berseberangan dengan flat yang saya tinggal,di bangun tahun 1888 dan dulunya di sewa oleh pegadaian terkenal,Woo Cheong Pawn Shop.Saat ini The Pawn di sewakan ke beberapa tenant yang membuka restaurant dan bar.



Talk about Hong Kong,khusunya Wan Chai,makanan tak akan pernah terlewat.Kedai makanan tradisional,restoran internasional sampai makanan kategori ekstrim ada di sini.Yup!Ular dan penyu!! πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š

Jika kamu main ke Wan Chai,letaknya di Cross Street,nyempil diantara toko kelontong,nama kedainya Se Wong Sun kalau tidak salah.Tempat ini sangat populer sampai pernah di dokumentasikan di salah satu program tivi.
Don't judge me,I tried snake meat for some reasons,but turtle???NO!NO!BIG NO!
Kenapa?Penyu adalah binatang paling unyuk yang seharusnya di bebaskan hidupnya dari atas piring (mangkuk ding).
Yah...walaupun saya koleksi cincin dan gelang dari cangkangnya,tapi tidak untuk makan dagingnya.I consider it as I can't eat pork.

Kedai ular dan penyuπŸ˜–

Fast forward,tinggal di Wan Chai adalah pengalaman unik,berisik tapi asik dan mahal gilak!🀦‍♀️
Nomaden macam saya sebenarnya tak terpengaruh untuk tinggal di manapun,yang penting bisa merem dan bangun ketemu makanan hahahaa πŸ˜‹πŸ˜‹
Tapi ketika di hadapkan pada kata "settle" itu tidak pernah jadi perkara mudah.
Tinggal (dan mungkin menetap) perlu banyak rencana matang,perhitungan,dan mempertimbangkan good and bad-nya.
So far,saya masih belum tahu apa yang akan saya lakukan ketika keputusan berdomisili di Hong Kong ini akhirnya benar terjadi.
Kepikir juga enggak.Saya selalu menganggap Jakarta adalah rumah.Tapi ketika flash back sepuluh tahun lalu,saya juga tak pernah punya rencana untuk tinggal di Jakarta.
So...?
As people say,"If the part before you is clear,you are probably on someone else's."
Mine?Never!

To be continue...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERBAIK HATILAH PADA DIRI SENDIRI

Kesasar di Museum Louvre

MALINDO AIR