Perjalanan Menuju "Scharleylle" 2
"When you want something,the Universe conspires in helping you to achieve it" Paulo Coelho.
Saat saya masih anak-anak,sama seperti kebanyakan anak-anak lain,saya juga punya cita-cita,dan seperti sifat anak-anak juga,cita-cita saya selalu berubah dengan berjalannya waktu.
Waktu taman kanak-kanak sampai SD,saya punya cita-cita menjadi dokter,karena saya suka sekali dengan Bu Hanni,dokter yang selalu saya kunjungi saat sakit.Dokter Hanni berbadan tinggi besar,ramah,dan saya selalu ingat bagaimana ekspresinya tiap kali saya baru sampai pintu ruang prakteknya.
"Aduhh,kenek opo???" (Aduh kenapa?)
Lalu cepat-cepat memeriksa saya.
Ekspresi itu yang selalu saya ingat sampai sekarang,wajah kuatir dan penolongnya.Waktu itu,Bu Hanni adalah idola saya-sebelum ada Ksatria Baja Hitam hehehe...
Cita-cita jadi dokter itu menguap begitu saja ketika mendaftar SPK,saya tidak lulus karena tidak tahan berada di kamar mayat.Waktu itu baru sadar kalau saya ini penakut luar biasa!Dan sampai sekarang masih suka ngakak sendiri kalau ingat kejadian tengkorak nggelinding waktu itu.
Pikir saya,jadi perawat saja nggak becus,bagaimana jadi dokter?
Sampai akhirnya saya lulus SMK,saya masuk fakultas ekonomi dan fakultas hukum sekaligus.Alasannya,karena tempat saya bekerja mengharuskan "Sarjana Ekonomi" jika ingin jadi pegawai tetap,dan jika itu tak terjadi saya masih bisa jadi pengacara.
Fast forward,dua-duanya tidak saya selesaikan sampai sekarang,karena banyak sekali alasan.Dua diantaranya,saya tidak jago menghitung,dan ternyata saya benci jadi pengacara.Yah...apalagi kalau bukan pikiran yang tidak stabil waktu itu dan hampir semua keputusan yang saya ambil karena impulsif.Dua tahun lalu saya hampir saja mendaftar masuk fakultas psikologi,gara-gara banyaknya teman yang suka curhat (kenapa enggak kalau saya jadi psikolog sekalian?)
Cita-cita terpendam saya menjadi penulis selalu saya rahasiakan pada ibu,dan teman-teman saya waktu itu.Cita-cita yang membuat saya malu hati karena tidak punya kemampuan untuk mewujudkannya.Pelajaran mengarang saya selalu bernilai bagus sejak SMP,tapi jelas itu bukan modal yang cukup untuk memulai.Kemudian,dengan keberanian yang setengah-setengah,saya mengirimkan cerpen-cerpen saya ke surat kabar dan majalah,yang walhasil tidak ada kabar setelahnya.
Saat SMK,saya sering di minta membacakan karangan saya di depan kelas oleh guru bahasa Indonesia,yang selalu di akhiri tepuk tangan teman sekelas.Ada kebanggaan di dada saya,tapi masih juga belum cukup untuk membuat saya mulai "mengangkat pena".Entah kenapa,masih ada sesuatu yang membuat saya diam tak bergerak.
Sebuah kalimat di film 5-7 yang di bintangi Anton Yelchin dan Berenice Marlohe menyentil pikiran saya,"Jika kamu ingin menjadi penulis hebat,kamu tidak boleh menjalani hidup yang biasa-biasa saja".Kalimat itu membuat saya melihat diri saya sendiri,apa yang sudah saya lakukan,apa yang sudah saya dapatkan,dan apa yang sudah saya pelajari.Dan rasanya,terlalu sangat sedikit.
Mungkin itulah arti dari rasa "belum cukup" yang selama ini ada dalam hati dan pikiran saya.
Beberapa tahun lalu,saya dengan sok-sokan memposting tulisan di Kompasiana beberapa kali.Cerpen berjudul LUCIFER adalah favorit saya,tulisan yang saya selesaikan dalam keadaan setengah "sadar" dan tidak.Setengah sadar karena bagaimana mungkin,seorang saya yang dengan berani-beraninya menulis tentang "Jenderal Kematian" dan jelas-jelas bukan manusia yang bisa saya interview.Seorang teman yang membacanya malah menyangka saya sedang "high" ketika menulisnya.Bisa jadi...
Ketika akhirnya saya memutuskan mulai menulis draft "Scharleylle",emosi saya selalu naik turun,karena ada bagian-bagian saya harus kembali pada "zero level",pada masa-masa kritis yang sudah saya masukkan dalam basement ingatan.Untuk bagian ini saya sampai harus konsultasi dengan psikolog demi mendapat jalan tengahnya.Proses ini kemudian membuat saya mengerti,kenapa mereka,para penulis-penulis itu kadang menjadi "gila" ketika menyelesaikan tulisan mereka.Saat sudah di serang migren,biasanya saya kembali bertanya pada diri saya sendiri,"Yakin kamu?"
Beberapa kali saya jawab dengan mantab,"Yakin!" dan ada kali yang lain saya jawab"Tidak tahu".
Menulis untuk saya adalah proses pencarian diri,mengenali apa yang saya tidak tahu dari diri saya sendiri.Kadang,ada menit-menit saya "terjebak macet" dalam pikiran saya sendiri yang menyadarkan saya,pada menit itulah waktu saya untuk kembali menghubungi diri saya "yang lain",meminta pendapat dan nasehat.
Dalam prosesnya,"Scharleyle" mengajari saya banyak hal,dari setiap kata yang ingin saya tuliskan,saya merasa perlu memikirkannya dalam-dalam,agar kelak ketika dia mendewasa dan menjadi tulisan yang utuh,dia tidak sekedar menjadi buku yang di baca,tapi juga menginspirasi.
*nb : foto diambil di hotel Mercure,Alam Sutra
Komentar
Posting Komentar