Cerita Sore Tadi

   

     Seorang teman yang sudah lama tidak ketemu curhat sama saya,sudah berbulan-bulan ini,menjelang setahun malah,belum juga mendapat pekerjaan.Katanya,"Padahal saya sudah berusaha kesana kemari,dan sambil terus berdoa lho,Teh..."
Sekilas,ungkapan"Berusaha sambil berdoa" ini kedengarannya wajar-wajar saja,tapi jika di pahami kembali,saya sedikit kurang setuju dengan kalimat atau pemikiran ini.
Kemudian saya bilang,"Coba di balik,berdoa banyak-banyak,kemudian mencoba dan berusaha."
Sederhana saja,sejak kecil kita diajarkan untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu.Secara pribadi,saya berdoa ketika baru terlintas rencana di kepala saya,sebelum akhirnya saya mulai melangkah.
Biasanya,jika rencana saya gagal,paling saya akan bilang,"Yo wes...karepMU" dengan harapan Tuhan akan memberikan jalan lain dari gagalnya rencana saya.Dan karena sikap ini,banyak teman yang bilang,kalau hidup saya kelihatan sangat santai-santai saja,tidak menggebu-nggebu seperti kebanyakan teman-teman yang lain.Kelihatannya memang seperti itu,tapi bukan berarti saya tidak sedang merencanakan apa-apa,pasrah-pasrah saja.Sebagai orang jawa,saya percaya ungkapan "nerimo ing pandhum" atau menerima apapun yang diberikan Tuhan pada kita,dan buat saya,sikap ini banyak memberikan ketenangan hidup,karena segala sesuatu akan ada masanya.Efek lain yang paling saya rasakan adalah kesehatan.Saya termasuk orang yang suka makan apa saja tanpa kuatir dengan efek kolesterol atau berat badan yang bertambah,toh memang wajar di umur saya yang sudah diatas tiga puluh,metabolisme tubuh sudah mulai berkurang.Jika sudah merasa terlalu "pegah" paling-paling saya akan lari sebentar di treadmil, atau di taman.Olahraga harian saya naik turun tangga,dan jalan kaki ke warung atau muter-muter di mall hehehe...
Kembali ke ungkapan "Berusaha sambil berdoa",ketika seseorang bersikap seperti ini,saya berpikir seolah-olah Tuhan adalah "sambilan"saja dan menjadi opsi kedua setelah kita berniat atau melakukan sesuatu.
Hal ini mengingatkan saya pada kalimat Denny Siregar dalam bukunya,Tuhan Dalam Secangkir Kopi,"Kaum materialis memang selalu mendahulukan usaha dulu baru berdoa."Karena usaha ada wujud,sedangkan do'a tidak.Wujud memang lebih nyata,karena tampak.Doa lebih pada konsep spiritual dengan dimensi yang berbeda.
Teman saya kurang setuju dan protes dengan pemikiran saya yang "menerima saja",karena menurutnya,"Hidup di Jakarta harus serba cekatan,siapa cepat dia dapat,kalau tidak,orang mah sudah kemana-mana,sedangkan kita masih disini saja."
Saya ngakak-ngakak mendengar protesannya,karena pada dasarnya ungakapan itu bukan motto hidup saya.Tapi juga saya tidak menyangkal,untuk beberapa alasan sikap seperti itu memang di butuhkan.Lalu saya tanya dia,"Kamu sudah cepat-cepat dapat apa?"
Entah kenapa dia tiba-tiba merenung...
Untuk saya pribadi,saya lebih memilih ungkapan "Biar lambat asal selamat" atau tidak apa-apa disini dulu sementara sambil mempersiapkan untuk kemudian bisa kemana-mana hahahaaa...
Akhirnya,saya cuma bisa membekali teman saya dengan sedikir nasehat sebelum mencoba lagi,untuk merubah sedikit mindsetnya dari "Berusaha sambil berdoa" menjadi "Berdoa dulu kemudian berusaha."
Kadang-kadang,secara tidak sadar kita sebagai manusia sudah menyombongkan diri dan merasa mampu untuk melakukan sesuatu dulu sebelum minta ijin pada Tuhan.
Teman saya mengangguk-angguk,dan mudah-mudahan betulan dia mengerti :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERBAIK HATILAH PADA DIRI SENDIRI

Kesasar di Museum Louvre

MALINDO AIR